Sunday, January 18, 2015

Wirausaha Baru Butuh Dukungan



Wirausaha Baru Butuh Dukungan

Tumbuhnya wirausaha baru butuh dukungan dari pihak pemerintah ataupun dari pihak swasta. Indonesia masih membutuhkan banyak wirausaha muda. Mereka perlu bimbingan teknik maupun pendanaan, seperti halnya yang dilakukan oleh kantor berita Antara.

Saturday, January 3, 2015

Peserta WMM Terus Meningkat



Peserta WMM Terus Meningkat

 

Kepedulian Bank untuk menggerakan tumbuhnya para wirausaha muda sangat dibutuhkan. karena pengembangan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) adalah salah satu pilar perekonomian. Keberadaan dan kepedulian Bank sebagai daya dukung tumbuhnya UMKM sangat diharapkan seperti halnya yang dilakukan Bank Mandiri

Monday, November 17, 2014

Daur Ulang Limbah di Kalbar Menarik Investor



Daur Ulang Limbah di Kalbar Menarik Investor

Dalam persaingan usaha,dibutuhkan kreativitas. Produk usaha yang menjanjikan biasanya yang dapat mendatangkan keuntungan besar. Usaha yang sepsifik, tetapi produk yang banyak dibutuhkan orang banyak. Seperti halanya usaha pengolahan barang bekas ataupun daur ulang limbah di Kalimantan Barat. Usaha kecil menengah (UKM) ini mulai diminati investor dari luar daerah. Bisnis yang sudah digeluti pengusaha muda Kota Pontianak, Indra Noviansyah lima tahun itu akan diakuisi seorang investor dari Jakarta, Dina Rimandra dengan nilai USD 3 juta.
Jpnn.com- Dina langsung dibawa berkeliling ke tempat usaha recycling manufacture yang kini ikut dimilikinya itu. Indra Noviansyah yang karib disapa Novint mengaku senang karena baru saja mendapat mitra bisnis partner seorang perempuan. “Jarang sekali perempuan yang peduli akan lingkungan dan mau terjun ke tempat yang dianggap kotor," ujar Novint, Minggu (16/11).
Sedangkan Dina mengaku tertarik untuk terjun total ke bisnis daur ulang itu karena peluangnya masih sangat besar. Dina pertama kali kenal Novint melalui keluarga Ketua Umum HIPMI, Raja Sapta Oktohari pada malam pergantian tahun lalu di Bali.
Selanjutnya, keduanya terlibat dalam diskusi bisnis. "Saya melihat peluang di Pontianak, dan saya mencoba menjemputnya," kata Dina.
Menurutnya, bidang usaha limbah non-organik itu  memang berbeda dengan usaha yang dijalaninya saat ini. Dia mengaku tertarik pada binsis daur limbah karena selain dapat menjaga lingkungan, juga menghasilkan nilai ekonomi.
Ia lantas mencontohkan biji plastik. "Market yang kita tuju juga sudah jelas, kita bisa mengekspor biji plastik yang siap didaur ulang ini ke China, Korea dan India," tambah wanita yang sebelummya juga telah sukses berbisnis di bidang food and beverages ini.
Tidak hanya itu, Dina juga menyempatkan diri untuk terjun langsung ke wilayah pembuangan limbah sawit untuk melihat potensi limbahnya. Selama ini limbah sawit dibuang begitu saja, padahal Dina menilai limbah tersebut memiliki nilai ekonomis.
"Limbah yang berbahaya bagi lingkungan itu akan menjadi sesuatu yang bernilai jika dikelola dengan tehnologi tepat guna, apalagi tingginya demand market negara luar atas produk turunan limbah sawit ini," tutup Dina.
Akuisisi pun akan segera dilaksanakan dengan melibatkan pendanaan beberapa pabrik melalui Limbahagia Corporation. Pengembangan usaha sejenis akan dibangun oleh Dina di Bogor, Lampung, Bali dan Banjarmasin.(boy/jpnn, dio).

Monday, November 3, 2014

Terobosan Usaha



Terobosan Usaha

Menjelang pasar bebas Asean perlu terobosan-terobosan baru dalam berbagai usaha. Bank Mandiri mendirikan inkubator bisnis untuk mengembangkan kewirausahawan di Indonesia. Mandiri Inkubator Bisnis ini nantinya akan menciptakan ekosistem pendukung yang dibutuhkan wirausahawan muda untuk memperkuat bisnis.
Pada tahap pertama, inkubator bisnis diikuti 14 peserta yang merupakan finalis program Wirausaha Muda Mandiri (WMM), Mandiri Young Technopreneur (MYT) dan Mandiri Bersama Mandiri (MBM) periode 2012 dan 2013.

Indonesia Perlu Menggejot Produk dalam Negeri



Indonesia Perlu Menggejot Produk dalam Negeri

Menjelang pasar bebas Asean, Indonesia perlu menggenjot produk dalam negeri, baik kuantitas maupun kualitas secara besar-besaran. Kurangnya wirausaha muda menyebabkan Indonesia hanya sebagai pasar dari produk-produk asing yang masuk. Apalagi tahun depan sudah dimulainya era perdagangan bebas ASEAN.
Direktur Keuangan PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo Tbk Witjaksono menjelaskan, jumlah pengusaha di Indonesia masih jauh dibawah angka ideal. Saat ini rasio pengusaha di Indonesia hanya sekitar 1,6 persen saja. Padahal isealnya sebuah negara maju haruslah memili rasio pengusaha di atas 5 persen. Dari 1,6 persen itu jumlah pengusaha yang berusia di bawah 40 tahun hanya 0,8 persen.
Powered by Blogger.